Tentang kita yang tak mungkin (Nadnaf)
Walau semua tak harus dipungkiri (Stella)
Bahwa aku masih ingin hadirmu disini (Luthfi)
Kutapaki jejakmu ditelan sepi (Frida)
Saat aku bilang ‘ya’, dan kamu teriak ‘tidak’ (Kia)
Walau semua tak harus dipungkiri (Stella)
Bahwa aku masih ingin hadirmu disini (Luthfi)
Kutapaki jejakmu ditelan sepi (Frida)
Saat aku bilang ‘ya’, dan kamu teriak ‘tidak’ (Kia)
Satu Yang Bukan Satu
Dia tampak
terkoyak. Butir – butir air mata jatuh menenggelamkan topeng kebanggaannya.
Dilihatnya lagi badan yang terbujur lemas di hadapannya menatap
kosong dengan kedua bola mata hitam pekat. Tubuh itu membiru dan kaku. Aku tertawa. Aku merasa menang sedangkan dia sudah pasti
menelan kekalahan dan merayakannya dengan tangis yang masih tergenang. “Ini
semua gara-gara kau! Kalau saja kau tak hadir di sini, anak ini pasti masih
akan- akan-“, kembali ia menangis. Dasar manusia cengeng! Bermental lemah!
Ingin kumuntahkan kata-kata itu, tapi ya sudahlah aku masih merayakan euphoria
kejayaanku atas kejadian ini, perkataan dia tak mampu usik kegembiraanku.
Sekarang
mataku menari-nari melihat situasi. Aku perhatikan lagi raga anak lelaki
ingusan yang tidak sampai satu jam lalu masih berkoar-koar tidak berguna. Bocah
pengganggu itu sudah mati, udara di sekitar sini sudah tidak kotor lagi.
“Sudahlah teman, mari kita rayakan pagi yang damai ini. Selama ini kau tak
menyadari betapa indahnya kawasan ini kan? Tentu tidak kawan, setiap hari kau
hanya mendengar hardikan anak ini bukan? Yah untunglah, karna sekarang mulutnya
yang lucu ini tak dapat lagi menyusun hardikan – hardikan itu padamu! ” aku
tertawa kencang ; dia menangis, “Shh.. coba dengar suara burung gereja yang
lebih riang dari sebelumnya atau suara angin yang lembut itu pasti terdengar
olehmu.” Dia masih menangis meraung – raung seperti anak manja. Aku sudah tidak
tahan lagi. “Sialan! Kau pikir aku berbicara dengan kotoran hah! Dengarkan aku
baik baik! Lebih baik kau syukuri kematiannya karna menangis sekarang pun tidak
akan mengubah posisimu atau posisinya. Cepat kau kubur dia! “ “Berisik!
Seenaknya kau bicara begitu. Padahal semua ini adalah kesalahanmu! Aku tak
pernah menginginkan kematian anak ini. Aku tak bersalah dan ini bukan air mata
rasa bersalah melainkan rasa rindu yang teramat sangat” dia menangis kembali
sambil memeluk tubuh si bocah yang mulai
membiru. “Aku memang menganggapmu bodoh, tapi tak kusangka kau sebodoh ini.”
Kulepaskan tubuh anak itu dari pelukannya, “Lancang! Apa yang kau lakukan!” dia
terus meronta-ronta. “Aku yang paling tau dirimu! Saat ini sebetulnya kau juga
bersenang-senang bukan?” “Tidak!”, dia menutup kupingnya namun percuma, dia
masih bisa mendengarku. “Ya, aku tahu itu saat kedua tanganmu mencekik girang
leher anak itu. Perasaan penuh yang meluap – luap. Kau tahu kenapa? Karena kita
mempunyai tangan yang sama, jantung, jemari dan tubuh yang sama. Apa yang kau
rasakan pun kurasakan. Kau hanya malu, aku yang mendorongmu.” Kuusap rambutnya,
rambutku, rambut yang ada pada raga yang sama. “Namun selalu begini. Selalu aku
yang kau kambing hitamkan. Selalu dan selalu. Saat kau beri aku tatapan yang
amat keji. Saat aku berkata ya, dan kau berkata tidak.”
